MINUT, TelusurInformasiNews.id – Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) mulai memperkuat upaya pengendalian inflasi melalui Gerakan KORPRI Menanam dengan mengembangkan budidaya cabai sebagai langkah konkret untuk meningkatkan produksi dan menjaga ketersediaan komoditas pangan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Bertempat Jalan Ir. Soekarno, tepatnya di samping Rumah Kopi R2K. Selasa, (13/10/2026).
Gerakan tersebut dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Minahasa Utara, Ir. Novly Wowiling, M.Si., bersama kepala-kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan para camat se-Kabupaten Minahasa Utara. Dengan melibatkan jajaran pejabat yang diundang, yakni para kepala OPD dan camat.
Dalam wawancara Terkait pelaksanaan Gerakan KORPRI Menanam, Novly Wowiling menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata respons pemerintah terhadap persoalan yang sedang dihadapi masyarakat, terutama kenaikan harga cabai yang berdampak pada kebutuhan rumah tangga.
Menurutnya, gerakan tersebut juga menjadi tindak lanjut atas arahan Bupati Minahasa Utara Joune J.E. Ganda dan Wakil Bupati Kevin William Lotulung agar pemerintah daerah tidak hanya melakukan langkah penanganan, tetapi turut menghadirkan tindakan konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“KORPRI sebagai bagian dari Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara merasa terpanggil untuk ikut mengambil bagian dalam menjawab persoalan masyarakat, khususnya terkait kenaikan harga cabai. Ini juga merupakan tindak lanjut dari arahan Bapak Bupati dan Wakil Bupati agar ada tindakan nyata,” jelas Novly.
Ia mengatakan, pengembangan kebun cabai KORPRI dilakukan melalui kolaborasi bersama petani dengan mengedepankan pola kerja sama yang saling menguntungkan. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap produksi cabai lokal dapat meningkat sehingga mampu membantu memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat Minahasa Utara.
Dalam program awal ini, sekitar 4.000 hingga 5.000 pohon cabai telah ditanam. Dengan proyeksi produksi minimal satu kilogram cabai dari setiap pohon, kebun tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 4.000 sampai 5.000 kilogram atau 4–5 ton cabai.
Novly menjelaskan, perhitungan itu merupakan target dasar apabila setiap pohon mampu menghasilkan satu kilogram cabai. Jika tanaman telah berusia lebih dari satu tahun, dirawat secara optimal, serta didukung proses budidaya yang baik, potensi hasilnya dapat melampaui satu kilogram per pohon.
“Kita mencanangkan penanaman ini dengan konsep anti gagal. Standar budidayanya harus tinggi dan seluruh upaya pemeliharaan diarahkan untuk menjaga agar target produksi bisa tercapai. Kita mengejar produksi yang memang dibutuhkan masyarakat,” tegasnya.
Sekda Minut tersebut mengakui bahwa angka inflasi di Kabupaten Minahasa Utara saat ini perlu menjadi perhatian serius. Karena itu, pengendalian inflasi harus dilakukan melalui langkah terpadu, baik dengan meningkatkan produksi melalui kegiatan budidaya maupun melakukan intervensi langsung di tingkat pasar.
Menurut Novly, Gerakan KORPRI Menanam merupakan salah satu bentuk intervensi dari sisi hulu atau produksi. Sementara itu, pemerintah daerah juga telah melakukan intervensi di sisi hilir melalui kegiatan penjualan komoditas dengan harga di bawah harga pasar.
Ia mencontohkan kegiatan intervensi yang dilaksanakan pada Sabtu sebelumnya di Pasar Airmadidi. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil dengan adanya penurunan harga cabai, meskipun penurunannya masih perlu terus didorong.
Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah daerah, harga cabai yang sebelumnya berada pada kisaran Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram telah turun menjadi sekitar Rp110.000 per kilogram.
“Puji Tuhan, kita sudah berhasil menurunkan harga, sekalipun penurunannya masih relatif. Dari kisaran Rp130.000 sampai Rp140.000 per kilogram, kemarin kita mendapat informasi harganya sudah Rp110.000 per kilogram. Ini menunjukkan intervensi perlu terus dilakukan,” ungkap Novly.
Ia menambahkan, pemerintah akan melanjutkan intervensi pasar dengan menawarkan komoditas di bawah harga pasar serta mengupayakan pelaksanaannya secara berkelanjutan. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari antisipasi menghadapi peningkatan kebutuhan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru pada Desember mendatang.
Selain itu, pemerintah daerah juga mulai mempersiapkan langkah pengendalian harga untuk menghadapi tren kebutuhan pangan pada 2027, termasuk menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Novly menegaskan, Gerakan KORPRI Menanam tidak boleh berhenti hanya pada kegiatan yang dilaksanakan di satu lokasi. Ia telah mendorong para camat agar menjadikan program tersebut sebagai pola yang dapat diterapkan di wilayah masing-masing, kemudian dikembangkan hingga ke tingkat desa.
Dengan demikian, budidaya cabai diharapkan dapat dilakukan secara lebih masif dan melibatkan berbagai unsur pemerintahan serta masyarakat.
Menurutnya, peningkatan produksi menjadi salah satu kunci untuk mengoreksi harga cabai yang tinggi. Apabila produksi meningkat dan mampu melampaui kebutuhan masyarakat, tekanan terhadap harga di pasar diharapkan dapat berkurang.
“Kita mengikuti hukum ekonomi. Ketika produksi meningkat, harga diharapkan bisa terkoreksi. Yang penting, produksi harus mampu berada di atas kebutuhan masyarakat yang ada di Kabupaten Minahasa Utara,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa kestabilan produksi harus dijaga agar tidak mengalami penurunan. Novly mengakui, kondisi musim kemarau yang berlangsung saat ini turut memengaruhi produksi dan menyebabkan pasokan cabai mengalami koreksi atau penurunan.
Karena itu, pemerintah berupaya memulihkan produksi melalui kombinasi intervensi pasar dan penguatan budidaya. Dengan cara tersebut, ketersediaan cabai diharapkan semakin mendekati kebutuhan masyarakat.
Novly bahkan menyinggung kuatnya ketergantungan masyarakat terhadap cabai dalam konsumsi sehari-hari.
“Bagi masyarakat Minahasa Utara, makan tanpa cabai rasanya belum lengkap. Karena itu, melalui gerakan ini kita ingin membantu memenuhi kebutuhan tersebut dengan menjaga ketersediaan dan kestabilan produksi,” ujarnya.
Terkait target kebun cabai KORPRI, Novly kembali menegaskan bahwa prinsip utama program tersebut adalah budidaya anti gagal dengan target produksi minimal satu kilogram dari setiap pohon. Target tersebut menjadi dasar perhitungan untuk memperkirakan kemampuan produksi kebun dalam membantu memenuhi permintaan pasar.
Ia menjelaskan, target minimal tersebut diharapkan dapat dicapai, sementara target maksimalnya diupayakan lebih tinggi. Dengan demikian, jarak antara jumlah produksi dan tingginya kebutuhan cabai masyarakat dapat semakin diperkecil.
Novly mengakui bahwa musim kemarau telah menyebabkan produksi cabai mengalami penurunan. Namun, melalui intervensi di sektor budidaya dan pasar, pemerintah berharap produksi dapat kembali mendekati tingkat kebutuhan masyarakat.
Untuk waktu pelaksanaan, penanaman yang telah dilakukan dengan jumlah sekitar 4.000 hingga 5.000 pohon diarahkan agar berkontribusi terhadap kebutuhan pasokan menjelang Desember. Meski demikian, program ini tidak akan berhenti setelah target awal tersebut dijalankan.
Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara berencana melanjutkan pengembangan kebun cabai dengan menyiapkan tambahan sekitar 5.000 pohon cabai berbasis *polybag*. Pengembangan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas produksi sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan cabai di pasar.
Saat ditanya apakah pemerintah juga akan mengembangkan kebun KORPRI untuk komoditas lainnya, Novly menyatakan bahwa program akan dimulai dengan cabai terlebih dahulu.
Melalui Gerakan KORPRI Menanam, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara berupaya memperkuat keterlibatan aparatur pemerintah dalam menjawab persoalan kebutuhan pangan masyarakat. Kolaborasi dengan petani, pengembangan budidaya di tingkat kecamatan dan desa, serta intervensi harga di pasar menjadi rangkaian strategi yang diharapkan berjalan secara berkesinambungan.
Dengan target awal 4.000–5.000 pohon cabai dan rencana penambahan 5.000 pohon berbasis *polybag*, gerakan ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan cabai lokal, membantu menekan gejolak harga, dan mendukung pengendalian inflasi, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru.
Pemerintah daerah juga berharap langkah tersebut dapat menjadi contoh bagi kecamatan dan desa untuk mengembangkan budidaya cabai secara mandiri, sehingga peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada satu lokasi, melainkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh wilayah Kabupaten Minahasa Utara.
Upaya tersebut sekaligus menegaskan komitmen Pemkab Minut untuk menindaklanjuti arahan Bupati Joune Ganda dan Wakil Bupati Kevin William Lotulung melalui program nyata, dengan tujuan menjaga ketersediaan pangan, memperkuat produksi lokal, dan membantu masyarakat memperoleh cabai dengan harga yang lebih terjangkau.
(Vera.E.Kastubi)






