Senin, September 21, 2026
spot_img
BerandaMinahasa UtaraPemkab Minut Canangkan Gerakan Penguatan Desa Siaga TBC di Lembean, Perkuat Peran...

Pemkab Minut Canangkan Gerakan Penguatan Desa Siaga TBC di Lembean, Perkuat Peran Masyarakat Menuju Eliminasi Tuberkulosis

MINUT, TelusurInformasiNews.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa Utara terus memperkuat komitmen dalam upaya menekan penyebaran Tuberkulosis (TBC) melalui pencanangan Gerakan Bersama Penguatan Desa Siaga TBC yang dilaksanakan di Balai Desa Lembean. Kegiatan ini dihadiri oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Robby Parengkuan, S.H., yang mewakili Bupati Minahasa Utara Dr. Joune Ganda, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Minahasa Utara Allan Mingkid,Camat Kauditan Filma Anthoni, S.H., Kepala Puskesmas Kauditan dr. Theresia Tiow, serta jajaran pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan para pemangku kepentingan, serta masyarakat. Kamis, (9/7/2026).

Dalam sambutan Bupati Joune Ganda yang dibacakan Asisten II Robby Parengkuan, disampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam menyukseskan gerakan tersebut. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersyukur karena dapat berkumpul dalam keadaan sehat sekaligus bersama-sama memulai langkah nyata dalam memperkuat upaya pengendalian TBC melalui pembentukan Desa Siaga TBC.

“Gerakan ini merupakan bentuk komitmen bersama agar upaya pencegahan dan pengendalian TBC semakin kuat. Penanganan TBC tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat hingga ke tingkat desa,” ujar Robby Parengkuan saat membacakan sambutan Bupati Joune Ganda.

Dalam sambutan tersebut dijelaskan, berdasarkan Global TB Report 2024, Indonesia masih menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus TBC terbanyak setelah India. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah sehingga diperlukan langkah-langkah konkret untuk menekan angka penyebaran penyakit tersebut.

Di Kabupaten Minahasa Utara sendiri, pada tahun 2025 tercatat sekitar 321 kasus TBC, dan jumlah tersebut masih menunjukkan tren peningkatan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara terus mendorong pelaksanaan program Desa Siaga TBC secara lebih masif, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Kauditan.

“Setiap dugaan kasus TBC harus segera diidentifikasi, ditemukan lebih awal, kemudian diobati hingga tuntas (TOSS). Apabila ditemukan warga yang diduga menderita TBC, segera laporkan ke Puskesmas agar mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan sesuai prosedur,” tegas Parengkuan.

Lebih lanjut disampaikan bahwa Pemerintah Indonesia telah menetapkan target percepatan eliminasi TBC pada tahun 2030, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis sebagai salah satu program prioritas nasional. Sementara target Indonesia bebas TBC ditetapkan pada tahun 2050.

Karena itu, keberhasilan eliminasi TBC memerlukan dukungan seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah desa, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat hingga keluarga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC sekaligus mendorong upaya pencegahan sejak dini.

“Kami berharap masyarakat berpartisipasi aktif dalam mencegah penyebaran TBC. Mulailah dari diri sendiri dengan menjaga kebersihan, kesehatan, memperhatikan sirkulasi udara rumah, pencahayaan yang baik, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala TBC,” ungkap Robby Parengkuan.

Program Desa Siaga TBC merupakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang menempatkan warga sebagai pelaku utama dalam pencegahan dan pengendalian penyakit di wilayahnya. Melalui semangat gotong royong, masyarakat didorong melakukan deteksi dini, edukasi, investigasi kontak, pendampingan pasien, hingga memastikan pengobatan berjalan sampai selesai.

Selain itu, strategi yang dikembangkan juga mencakup peningkatan cakupan pengobatan (treatment enrollment), pelaksanaan investigasi kontak secara aktif, penghapusan stigma terhadap penderita TBC, peningkatan akses layanan kesehatan, dukungan transportasi pengobatan, serta penguatan sistem pencatatan dan pelaporan kasus.

Meski demikian, pemerintah mengakui masih terdapat berbagai tantangan dalam implementasi Desa Siaga TBC. Oleh sebab itu diperlukan peningkatan kapasitas, sinergi lintas sektor, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan agar pelaksanaan program berjalan secara berkelanjutan dan efektif.

“Melalui Gerakan Bersama Penguatan Desa Siaga TBC ini, kami ingin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan di tingkat desa dalam mendukung percepatan eliminasi TBC di Kabupaten Minahasa Utara,” tutur Parengkuan.

Mengakhiri sambutan Bupati Joune Ganda, Asisten II Robby Parengkuan secara resmi mencanangkan Gerakan Bersama Penguatan Desa Siaga TBC di Desa Lembean dengan harapan gerakan tersebut menjadi langkah nyata dalam mempercepat terwujudnya Kabupaten Minahasa Utara yang sehat serta mendukung target Indonesia menuju eliminasi Tuberkulosis pada tahun 2030.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Minahasa Utara, Drs. Alan Mingkid, menegaskan bahwa Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang memerlukan perhatian serius. Menurutnya, program pengendalian TBC yang dijalankan pemerintah daerah merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat sekaligus menjadi salah satu program prioritas Presiden di bidang kesehatan.

Alan juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara telah menyiapkan sejumlah fasilitas kesehatan (Faskes) yang dilengkapi peralatan khusus untuk mendeteksi penyakit TBC sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan pemeriksaan secara cepat dan akurat.

“Kami mengimbau masyarakat agar segera memanfaatkan fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan maupun tanda-tanda lain yang mengarah pada Tuberkulosis. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang untuk sembuh dan mencegah penularan kepada orang lain,” jelas Alan Mingkid.

Adapun fasilitas kesehatan yang telah memiliki alat pendeteksi TBC di Kabupaten Minahasa Utara meliputi Puskesmas Kauditan, Puskesmas Kema, Puskesmas Tatelu, serta Rumah Sakit Maria Walanda Maramis (RS MWM).

Kegiatan berlangsung dengan penuh semangat dan diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, serta masyarakat dalam membangun kesadaran kolektif untuk memutus mata rantai penularan TBC melalui deteksi dini, pengobatan yang tuntas, dan penerapan pola hidup bersih dan sehat.

 

(Vera.E.Kastubi).

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular