SULUT, TelusurInformasiNews.id – Kabupaten Minahasa Utara (Minut) kembali mencatatkan prestasi gemilang di sektor investasi. Daerah yang dipimpin oleh Bupati Joune J. E. Ganda ini kini semakin memperkokoh posisinya sebagai motor penggerak utama perekonomian di Provinsi Sulawesi Utara. Kamis (21/5/2026).
Kontribusi signifikan Minut dalam menarik modal, baik dari Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), mendapat pengakuan khusus dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Apresiasi ini disampaikan langsung oleh Wakil Gubernur Sulut, Dr. J. Victor Mailangkay, SH., MH., saat membacakan pidato tertulis Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE.
Momen pemberian penghargaan tersebut berlangsung dalam agenda Dedicated Team Meeting Regional Investor Relations Unit (RIRU) Sulawesi Utara 2026, yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut.
Dalam forum strategis itu, terungkap data realisasi investasi pada Triwulan I-2026. Total modal yang berhasil masuk ke Sulawesi Utara mencapai angka Rp2,13 triliun. Dari jumlah tersebut, Minahasa Utara mencatatkan kontribusi paling menonjol setelah Kota Manado, dengan nilai investasi mencapai Rp779 miliar. Raihan ini setara dengan sekitar 36 persen dari total capaian provinsi.
“Kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kabupaten Minahasa Utara atas capaian investasi yang menyentuh Rp779 miliar. Namun, di sisi lain, gap yang cukup lebar dengan wilayah lainnya harus menjadi perhatian bersama,” tutur Wagub Victor saat menyampaikan arahan Gubernur.
Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune J. E. Ganda, SE., MAP., MM., M.Si., yang turut hadir, mendapat kesempatan memaparkan berbagai langkah strategis serta evaluasi berkala yang telah dilakukan pemerintah daerah dalam menjaga iklim investasi, baik PMA maupun PMDN, sepanjang tahun ini.
Di tengah capaian impresif Minut, Gubernur melalui Wagub juga mengingatkan bahwa secara makro, capaian investasi Sulut masih perlu dievaluasi secara mendalam. Pasalnya, dari target investasi tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp12,13 triliun, realisasi di kuartal pertama ini baru mencapai kisaran 18 persen. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu yang mampu mencapai 33 persen.
Lebih lanjut, Wakil Gubernur juga menyoroti laju pertumbuhan ekonomi domestik Sulut pada Q1-2026 yang hanya mencapai 3,25% (yoy). Angka ini masih berada di bawah rata-rata nasional yang melaju di angka 5,96%. Menyikapi kondisi tersebut, Pemprov Sulut bersama Bank Indonesia telah menetapkan tiga strategi intervensi ketat yang wajib dikawal oleh seluruh kepala daerah. Strategi tersebut meliputi:
1.Monitoring Bulanan: Melakukan pengawasan intensif dan berkala terhadap seluruh proyek strategis di daerah agar setiap hambatan dapat dimitigasi lebih awal.
2.Debottlenecking: Mengurai dan menyelesaikan secara cepat berbagai kendala regulasi serta sengketa pembebasan lahan yang melibatkan lintas wilayah.
3.Hilirisasi & Diversifikasi Sektor: Mengalihkan fokus dari sektor konvensional menuju industri padat karya yang memiliki nilai tambah tinggi, seperti pengolahan komoditas kelapa, tuna, cakalang, serta pengembangan ekosistem smart tourism.
Di penghujung sambutannya, Wagub Sulut kembali mengingatkan pentingnya memaksimalkan peran Mal Pelayanan Publik (MPP) di tiap kabupaten dan kota. Menurutnya, kemudahan pelayanan menjadi kunci utama dalam memberikan rasa nyaman bagi para investor yang ingin menanamkan modal di Sulawesi Utara. “Investasi itu esensinya adalah kepercayaan. Kita tidak memerlukan laporan administrasi yang terlihat indah di atas kertas, yang paling utama adalah eksekusi nyata di lapangan,” pungkasnya.
Pertemuan strategis ini juga turut dihadiri oleh Kepala Perwakilan BI Sulut Joko Supratikto, Kepala Kantor Bea Cukai Bitung Didit Prayudi Sidharta, serta para Bupati dan Walikota se-Sulawesi Utara.(*)
(Vera.E.Kastubi)






