Kamis, April 23, 2026
spot_img
BerandaMinahasa UtaraDinas Pariwisata Minut, Adakan Dialog Budaya "SUMENGOR" Di Minahasa Utara.

Dinas Pariwisata Minut, Adakan Dialog Budaya “SUMENGOR” Di Minahasa Utara.

MINUT, TelusurInformasiNews.id – Pemerintah kabupaten Minahasa Utara, Bupati Dr. (Cand) Joune Ganda SE, M.A.P., M.M., M.Si yang diwakili oleh kadis pariwisata minut Dra. Femmy Pangkerego M.Pd., M.E Membuka Kegiatan Dialog Budaya “Sumengor” bertempat di Casa de Fada Minahasa Utara. Kamis, (15/5/2025).

Maksud dan tujuan Dialog Budaya “Sumengor” adalah untuk mempromosikan dan mengembangkan potensi budaya daerah yang ada di Minahasa Utara.

Dalam konteks Dialog Budaya “Sumengor”, diambil dari bahasa tonsea yang berarti “Ba uap” atau “Ba asap, hal ini dikaitkan dengan salah satu kegiatan yang merupakan tradisi dari daerah Tonsea, seperti ba’ Kure atau ba’ kera yang dalam bahasa moderen saat ini disebut steam bath.

Kepala Balai Pelestarian Wilayah XVII Bapak Sri Sugiharta ,S.S.,M.PA dalam sambutannya mengatakan, Saya ingin menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam terlaksananya acara ini. “Kita semua menyadari bahwa pelestarian kebudayaan merupakan tugas yang penting dan harus kita lakukan bersama. Acara dialog budaya ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang ada, tetapi juga sebagai momen untuk berbagi pencerahan dan pemahaman,” ujar Sugiharta.

Kehadiran Bapak Ibu sekalian, termasuk para narasumber, diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai kebudayaan di Minahasa Utara dan bagaimana kita bisa bersama-sama menjaga serta melestarikannya.

“Saya ingin menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk komunitas kesehatan dan sektor pariwisata, dalam upaya pelestarian budaya. Seperti yang kita ketahui, banyak aspek pariwisata yang sangat dipengaruhi oleh budaya setempat. Oleh karena itu, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mendiskusikan berbagai isu dan usulan yang mungkin muncul dari Bapak Ibu sekalian, agar kita bisa menemukan solusi yang tepat dalam mengembangkan dan melindungi kebudayaan kita,” tutur Sugiharta.

Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya ingin menginformasikan bahwa Kementerian Kebudayaan mempunyai program fasilitasi pemajuan kebudayaan dalam bentuk bantuan dana yang dikenal dengan nama Dana Indonesiana. Program ini dapat diakses oleh semua pelaku kebudayaan di Indonesia dan organisasi masyarakat yang bergerak dalam bidang kebudayaan. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui website resmi kami. Di akhir bulan Mei, kami juga berencana untuk membuka program aplikasi serupa yang akan mempermudah pelaku kebudayaan dalam mengajukan proposal pendanaan secara online. Dengan demikian, kami berharap proses ini lebih mudah dan dapat diakses oleh semua pihak tanpa perlu datang ke kantor. “Akhir kata, saya berharap dialog budaya ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita semua, khususnya bagi masyarakat dan pemerintah daerah Minahasa Utara,” tutup Sugiharta.

Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda dalam sambutannya yang dibacakan oleh Dra. Femmy Pangkerego M.Pd., M.E. Kadis Pariwisata Minahasa Utara mengatakan, Atas nama pribadi, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, bupati dan
wakil bupati, menyampaikan apresiasi dan salut, atas penyelenggaraan kegiatan
ini, dalam rangka mendukung wahana pelestarian, dan pengembangan
kebudayaan bangsa dan daerah kita Minahasa, khususnya Minahasa Utara.

“Budaya secara umum merujuk pada cara hidup yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok manusia, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ini mencakup berbagai aspek, termasuk pengetahuan,
kepercayaan, seni, moral, hukum adat, dan kemampuan yang diperoleh manusia,
sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain, budaya adalah hasil karya, rasa, dan
cipta manusia yang membentuk tatanan kehidupan kompleks.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya mengajak seluruh elemen
masyarakat dan pemangku kebijakan, untuk terus menjaga dan melestarikan budaya adat masyarakat, untuk perkembangan dan kemajuan budaya di masyarakat khususnya kebudayaan di Minahasa Utara. Hal ini perlu saya ingatkan kepada kita semua, ditengah kemajuan ilmu, pengetahuan dan teknologi informasi.
Dialog Kebudayaan ini, menjadi momentum untuk memelihara atau
mengembangkan nilai-nilai tradisi yang ada di masyarakat Kabupaten Minahasa Utara. Memelihara dan mengembangkan nilai-nilai tradisi daerah, yang merupakan jati diri, dan sebagai lambang kebanggaan masyarakat daerah yang multikultural,” Kata Kadis Femmy.

Biarlah dialog ini, menjadi motivasi bagi kta semua, untuk melindungi,
mengamankan dan melestarikan budaya daerah, semangat cinta tanah air,
nasionalisme dan patriotisme, serta mengembangkan kebudayaan daerah, untuk memperkuat jati diri kebudayaan nasional, dan daerah.
Untuk dapat melestarikan budaya daerah, antara Pemerintah, Masyarakat, serta
Stakeholder terkait, harus ada kekompakan serta visi yang sama dalam bekerjasama.
Jika tidak ada kebersamaan, mustahil budaya daerah ini dapat lestari, ditengah efek kemajuan media sosial saat ini.
Marilah saat ini, ita semua bersama-sama membumikan yang berhubungan
dengan budaya, warisan atau konten kebudayaan di Kabupaten Minahasa Utara,
sehingga dapat penyatuan persepsi satu sama lain. Saya berharap, untuk kemajuan
kebudayaan, perlu ada pelestarian dan pengembangan di sekolah-sekolah,
kecamatan, dan desa, dengan mengisi program yang mungkin bisa dilakukan, untuk pelestarian, dalam rangka ikhtiar kita dalam kemajuan budaya Minahasa Utara.
Kita perlu tahu bersama, generasi muda sekarang menghadapi tantangan
globalisasi, dengan membanjirnya informasi lewat media elektronik khususnya media sosial. Nilai-nilai lokal semakin merosot, dan cenderung ditinggalkan. Nilai tradisional
terancam punah, bahkan bahasa lokal beberapa di antaranya telah hilang. Karenanya sosialisasi tentang pemajuan kebudayaan dalam bentuk dialog, dirasa sangat penting.

Acara dilanjutkan dengan penjelasan mengenai kolaborasi steam bath yang berhubungan dengan budaya kure secara tradisional, di mana praktik kedokteran ditambahkan ke dalamnya. Ibu Elisabeth M.F. Lalita, SKM.,M.Kes. menjelaskan penelitian mengenai manfaat penggunaan bahan-bahan herbal seperti daun Turi dan cengkih.

Salah satu sorotan dari dialog ini adalah pemaparan mengenai budaya kure Minahasa, yang berfokus pada praktik kesehatan pasca melahirkan, termasuk Bakera (mandi uap) dan perawatan di Rompon (kamar khusus). Kedua praktik ini memiliki banyak manfaat bagi perempuan setelah melahirkan, maupun pada orang yang ingin memelihara kesehatan.

Acara dihiasi dengan penampilan Tari Tumatenden dari SDN 36 Kaima sebelum sesi dialog dimulai, diikuti dengan diskusi mendalam mengenai budaya kure “Sumengor” oleh Prof. Benny Pinontoan, MSc.

Maxi Pinontoan M.Pd., Sekretaris Umum Paimpuluan Nuwu ne Tonsea (PNNT), dalam wawancaranya mengatakan, “Kegiatan seperti ini sudah jarang ada, makanya kami angkat kembali. Kami berharap pemerintah memperhatikan adat istiadat dan budaya, khususnya di Tanah Tonsen,” Harap Sekum Maxi.

“Kami dalam waktu dekat akan mengadakan dialog yang akan dibantu oleh BPK17, yaitu tentang Sumokso, tentang rumaris dan  lumelek,” ucap Sekum Maxi.

Saya adalah Sekum PNNT paimpuluan nuwu ne tonsea tetapi kami tidak monopoli budaya Tonsea yang kami laksanakan tadi saya sudah informasikan di bulan Januari saya bikin acara yang namanya tuludeng saya bikin di Desa Darunu dan di Sarongsong 2.

Kemudian di bulan Februari saya bikin acara Mas Sampper.
Itu bukan budaya Tonsea saya akan itu budaya dari Sangen.
Dan ketika saya bikin acara Festival Kematian untuk komandan itu betul betul tonsea. Jadi kalo Gorontalo belum, tetapi kami beberapa kali sudah pernah bekerja dengan komunitas yang lain yang menampilkan beberapa tarian dari Gorontalo.

Sekum maxi menekankan perlunya dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah dan dinas terkait, untuk memastikan pelestarian budaya tradisional.

Partisipasi berbagai suku, termasuk suku Sangie, mencerminkan keanekaragaman budaya dan semangat kolaborasi. Respons positif dari komunitas menunjukkan pentingnya partisipasi mereka dalam mempertahankan identitas budaya.

Dengan inisiatif yang inklusif, PNNT berkomitmen untuk memajukan seni dan budaya daerah, menciptakan kesempatan bagi generasi muda untuk berkontribusi.

Acara ditutup dengan pemberian Piagam Penghargaan kepada para peserta.

Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Kadis Pariwisata Minut Dra. Femmy Pangkerego, Kepala Balai Pelestarian Wilayah XVII Bapak Sri Sugiharta ,S.S.,M.PA., Camat Dimembe Ansye, Dengan, Prof. Benny Pinontoan, dan para peserta dialog

Dialog berlangsung dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan, menegaskan semangat untuk melestarikan kebudayaan di Minahasa Utara.

 

(Vera.E.Kastubi)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular