SULUT, TelusurInformasiNews.id – Ketika Yang Menyusun Undang–Undang Lupa Siapa Yang Membayar Pajak, Inilah wajah buram pembangunan ketika investasi menjadi berhala baru dan tenaga kerja dianggap sekadar angka yang bisa dipotong sesuka pasar. Negara menjual upah murah sebagai paket promo, sementara rakyat pekerja diminta menerima pengorbanan tanpa pernah diajak bicara.
Modal tidak datang sebagai tamu ia datang sebagai penentu.
Modal menginvasi kebijakan, mengintervensi regulasi, menginfiltrasi pengawasan, menekan ruang kritik, dan perlahan menjadikan kesunyian sebagai kewajiban bagi mereka yang bekerja.
Upah diminta menyesuaikan realitas pasar,
sementara harga kebutuhan menyesuaikan realitas inflasi.
Dan ketika buruh protes, jawabannya adalah: begitulah mekanisme global.
Namun ironi menjadi jelas tak terbantahkan.
Untuk menaikkan upah buruh 10 persen saja, rapatnya bisa hampir setahun berlapis konsultasi, harmonisasi, dikaji ulang, dikoreksi ulang.
Tapi ketika giliran gaji pejabat atau DPR dinaikkan, satu hari cukup, tanpa keributan, tanpa jeda, tanpa ragu.
Ini contoh nyata bagaimana negara bergerak cepat ketika elit diuntungkan, lambat ketika rakyat menuntut.
Padahal konstitusi bukan dekorasi.
UUD Pasal 27 bukan tulisan hiasan di ruang sidang.
Ia janji bahwa pekerjaan dan penghidupan layak adalah hak bukan hadiah, bukan belas kasihan, bukan tergantung “situasi fiskal dan investasi.”
Sementara keuntungan korporasi naik, rakyat ditekan untuk hemat;
sementara aset pemilik modal menanjak, buruh disuruh bersyukur dengan angka yang tidak cukup membeli kebutuhan dasar.
Jika pembangunan hanya menguntungkan pemilik modal, itu bukan pembangunan itu penggusuran kesejahteraan.
Jika hukum hanya tajam ke bawah, itu bukan keadilan itu alat kekuasaan.
PERLAWANAN ADALAH KALIMAT TERAKHIR YANG TIDAK BISA DIHAPUS
Hak tidak jatuh dari langit ia direbut oleh mereka yang berani menagihnya.
Sejarah tidak bergerak oleh diam ia berubah oleh keberanian mereka yang tidak rela tunduk.
Ketika buruh bersatu, modal berhitung ulang. Ketika rakyat bergerak, kekuasaan dipaksa mendengar.
Karena negeri ini tidak dibangun oleh lobi hotel dan rapat tertutup,
melainkan oleh cangkul di ladang, tangan di mesin, punggung yang memikul beban ekonomi setiap hari.
✊ Hidup Buruh. Hidup Perlawanan.
Perjuangan bukan pilihan perjuangan adalah kewajiban ketika ketidakadilan menjadi aturan.
(Sanni Lungan)
TIM TIN






