MINUT, TelusurInformasiNews.id – Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi dampak fenomena El Nino Tahun 2026, khususnya ancaman kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).Rabu, (5/8/2026)
Kesiapsiagaan tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara di bawah kepemimpinan Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune J.E. Ganda, S.E., M.A.P., M.M., M.Si., bersama Wakil Bupati Kevin W. Lotulung, S.H., M.H., menyusul adanya informasi dan pemaparan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Utara mengenai potensi El Nino Tahun 2026.
Hal tersebut dibahas dalam kegiatan Zoom Meeting Press Release BMKG Sulawesi Utara mengenai Potensi El Nino Tahun 2026 serta Kesiapsiagaan Menghadapi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Berdasarkan hasil monitoring BMKG pada Dasarian III Juli 2026, kondisi hari tanpa hujan di wilayah Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan adanya sejumlah daerah yang mengalami periode kering dengan berbagai kategori.
Tercatat sebanyak 16 lokasi mengalami hari tanpa hujan dengan kriteria sangat pendek, yakni selama 1 hingga 5 hari. Selanjutnya, sebanyak 56 lokasi masuk kategori pendek, dengan periode tanpa hujan selama 6 hingga 10 hari. Sementara itu, sebanyak 48 lokasi mengalami hari tanpa hujan dengan kategori panjang, yakni selama 21 hingga 30 hari. BMKG juga mencatat terdapat 13 lokasi yang mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari, sedangkan tiga wilayah lainnya masih mengalami hujan hingga waktu pemutakhiran data.
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu mendapat perhatian bersama, terutama dalam menghadapi kemungkinan meningkatnya kekeringan pada sejumlah wilayah di Sulawesi Utara. Dalam pemaparan mengenai analisis dan prediksi El Nino–Southern Oscillation (ENSO) yang dimutakhirkan pada Dasarian III Juli 2026, BMKG menyebutkan bahwa nilai anomali suhu permukaan laut atau Sea Surface Temperature (SST) di wilayah Nino 3.4 pada periode Mei–Juni–Juli (MJJ) Tahun 2026 tercatat sebesar +1,55 derajat Celsius.
Nilai tersebut menunjukkan telah terjadinya fenomena El Nino dengan intensitas kuat. BMKG juga memprediksi bahwa perkembangan El Nino Tahun 2026 berpotensi mencapai kategori sangat kuat, khususnya dalam periode September–Oktober–November (SON) 2026 hingga Oktober–November–Desember (OND) 2026. Fenomena El Nino tersebut diperkirakan dapat memengaruhi pola curah hujan bulanan mulai Agustus 2026 hingga Januari 2027 serta meningkatkan potensi kondisi cuaca yang lebih kering di sejumlah wilayah.
Selain itu, BMKG juga menyampaikan prediksi puncak musim kemarau Tahun 2026. Sejumlah Zona Musim (ZOM) di wilayah Sulawesi Utara diperkirakan akan mengalami puncak musim kemarau pada periode yang berbeda. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada sejumlah wilayah yang masuk dalam ZOM 493, ZOM 494, ZOM 495, ZOM 498, ZOM 499, ZOM 500, dan ZOM 501, sedangkan wilayah lainnya seperti ZOM 492, ZOM 496, dan ZOM 497 juga menjadi bagian dari wilayah yang perlu mendapatkan perhatian dalam menghadapi perkembangan musim kemarau Tahun 2026.
Berdasarkan pembaruan peta suhu pada 4 Agustus 2026, BMKG turut menyampaikan kondisi suhu maksimum dan suhu minimum di wilayah Sulawesi Utara. Peta suhu tersebut menjadi salah satu dasar pemantauan terhadap perubahan kondisi cuaca dan potensi peningkatan suhu selama musim kemarau. Kondisi cuaca yang semakin panas berpotensi memberikan dampak terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat. Pada sektor pertanian, perubahan iklim dapat memengaruhi penentuan awal musim tanam, ketersediaan air untuk irigasi, serta pola dan sebaran hama tanaman.
Sementara pada sektor sumber daya air dan energi, kondisi iklim turut menentukan volume air pada bendungan serta ketersediaan air baku bagi masyarakat. Perubahan kondisi cuaca juga dapat memengaruhi produksi energi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), sedangkan suhu panas berpotensi meningkatkan kebutuhan dan konsumsi energi. Pada sektor kesehatan, perubahan kondisi iklim dapat memengaruhi pola penyebaran penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria. Cuaca panas juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat suhu ekstrem atau heat stroke, sedangkan penurunan kualitas udara dapat memicu terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Adapun pada sektor kebencanaan, kondisi cuaca yang lebih kering dapat meningkatkan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan, memicu terjadinya krisis air bersih, serta menimbulkan ancaman gagal panen dan kerawanan pangan, terutama pada wilayah-wilayah terpencil. Berdasarkan peta peringatan dini kekeringan meteorologis Provinsi Sulawesi Utara, sejumlah wilayah telah masuk dalam status Waspada dan Siaga terhadap potensi kekeringan.
Untuk Kabupaten Minahasa Utara, wilayah Kecamatan Likupang Barat dan Likupang Timur tercatat masuk dalam wilayah yang perlu mendapatkan perhatian terhadap perkembangan kondisi kekeringan meteorologis. Sementara sejumlah daerah lain di Sulawesi Utara yang turut tercatat dalam peta peringatan dini tersebut meliputi beberapa kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Timur, Kota Bitung, Kota Manado, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan, serta wilayah Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.
Sebagai langkah menghadapi dampak El Nino, BMKG menyampaikan sejumlah rekomendasi sektoral yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Pada sektor pangan, masyarakat dan pelaku pertanian diharapkan dapat menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air, memiliki ketahanan terhadap kekeringan, dan mempunyai siklus tanam yang lebih singkat.
Di sektor sumber daya air, perlu dilakukan upaya revitalisasi waduk, perbaikan jaringan distribusi air, serta memastikan ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada sektor energi, diperlukan pemantauan dan pengelolaan kapasitas air bendungan guna mendukung operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Sementara pada sektor lingkungan dan kesehatan, perlu disiapkan mekanisme respons cepat dalam mengantisipasi kemungkinan memburuknya kualitas udara yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit ISPA. Di sektor kehutanan dan kebencanaan, kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan serta kejadian kebakaran hutan dan lahan perlu terus diperkuat melalui langkah-langkah pencegahan, pemantauan, dan penanganan dini.
Adapun pada sektor perikanan dan produksi garam, fenomena upwelling dapat dioptimalkan untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan. Musim kemarau yang lebih kering juga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung peningkatan produksi garam.
Bupati Minahasa Utara, Dr. Joune J.E. Ganda, S.E., M.A.P., M.M., M.Si., menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi potensi El Nino harus dilakukan secara terpadu dan melibatkan seluruh perangkat daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta masyarakat. “Informasi dan prediksi yang disampaikan BMKG harus menjadi dasar bagi kita untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan perlu diantisipasi sejak dini melalui langkah-langkah pencegahan yang terencana, terukur, dan melibatkan seluruh unsur terkait,” ujar Bupati Joune Ganda.
Menurutnya, kesiapan menghadapi dampak El Nino tidak hanya berkaitan dengan penanganan bencana, tetapi juga menyangkut keberlangsungan sektor pertanian, ketersediaan air bersih, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, serta perlindungan terhadap lingkungan. “Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara akan terus memperkuat koordinasi dengan BPBD, BMKG, instansi terkait, pemerintah kecamatan dan desa, serta seluruh elemen masyarakat. Langkah mitigasi harus dilakukan lebih awal agar dampak yang mungkin terjadi dapat diminimalkan,” tambahnya.
Bupati Joune Ganda juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang semakin panas dan kering, serta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan. “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan, menggunakan air secara bijak, serta segera melaporkan apabila ditemukan titik api atau kejadian yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Pencegahan merupakan langkah paling penting untuk melindungi masyarakat dan daerah kita,” tegas Bupati Joune.
Sementara itu, Wakil Bupati Minahasa Utara, Kevin W. Lotulung, S.H., M.H., menekankan pentingnya kesiapan seluruh unsur pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan dampak musim kemarau yang lebih panjang. “Kesiapsiagaan harus dimulai dari tingkat daerah hingga ke desa dan kelurahan. Setiap informasi peringatan dini perlu ditindaklanjuti secara cepat agar masyarakat dapat melakukan langkah antisipasi, terutama pada wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan rawan kebakaran,” kata Wakil Bupati Kevin Lotulung.
Melalui kegiatan tersebut, BPBD Kabupaten Minahasa Utara diharapkan terus memperkuat pemantauan kondisi cuaca, menyebarluaskan informasi peringatan dini, serta meningkatkan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi dampak El Nino Tahun 2026.
Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah, meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi cuaca, serta berperan aktif dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Dengan kesiapsiagaan yang terencana, koordinasi yang kuat, serta dukungan seluruh masyarakat, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara optimistis dampak fenomena El Nino Tahun 2026 dapat diantisipasi dan diminimalkan demi menjaga keselamatan masyarakat, kelestarian lingkungan, serta keberlangsungan pembangunan di Kabupaten Minahasa Utara.
(Vera.E.Kastubi).






