Sabtu, Oktober 24, 2026
spot_img
BerandaMinahasa UtaraGerakan Pangan Murah Minut Digelar di Pasar Airmadidi, Pemkab Siapkan Intervensi Hingga...

Gerakan Pangan Murah Minut Digelar di Pasar Airmadidi, Pemkab Siapkan Intervensi Hingga Desember

MINUT, TelusurInformasiNews.id – Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara terus memperkuat upaya pengendalian harga kebutuhan pangan guna menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas, khususnya cabai rawit atau rica. Salah satu langkah konkret yang dilakukan yakni melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang dilaksanakan di Pasar Airmadidi, dengan menghadirkan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau dibandingkan harga yang berlaku di pasaran. Sabtu(10/10/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Minahasa Utara, Ir. Novly Wowiling, M.Si., didampingi Asisten II Robby Parengkuan, S.H., Asisten III Jossy Kawengian, serta Kepala Dinas Pangan Minahasa Utara, Asriyadi Lalompoh, S.STP. dan Kepala dinas perdagangan Minahasa utara Drs. Maximilian Tapada, M.Si.

Turut hadir Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan, Kepala Dinas Perdagangan, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP), Direktur PUD Klabat, Kepala Bagian Perekonomian, Camat Airmadidi, serta Lurah Sarongsong I.

Dalam pelaksanaan Gerakan Pangan Murah tersebut, pemerintah menyiapkan sebanyak 150 kupon untuk masyarakat. Komoditas pangan yang disediakan meliputi beras sebanyak 200 sak dan cabai rawit atau rica sebanyak 150 kilogram.

Sekda Minahasa Utara, Novly Wowiling, menjelaskan bahwa pelaksanaan Gerakan Pangan Murah merupakan bentuk respons pemerintah daerah terhadap perkembangan harga sejumlah komoditas pangan yang mengalami kenaikan signifikan di pasaran.

Menurutnya, berdasarkan hasil pemantauan terhadap perkembangan harga, cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang mengalami lonjakan harga cukup tinggi sehingga membutuhkan langkah penanganan dari pemerintah.

“Setelah kita mencermati perkembangan harga beberapa komoditas, terutama rica, ternyata harganya di pasaran memang melonjak tinggi. Ini menjadi persoalan yang harus dijawab. Fungsi pemerintah adalah hadir untuk memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat, termasuk kenaikan harga sejumlah kebutuhan pangan,” ujar Novly.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari kebijakan Bupati dan Wakil Bupati Minahasa Utara untuk melakukan intervensi pasar melalui penyediaan komoditas pangan dengan harga yang lebih rendah daripada harga pasar.

Novly mengungkapkan, harga cabai rawit di pasaran berada pada kisaran Rp110.000 hingga Rp140.000 per kilogram. Melalui intervensi yang dilakukan pemerintah, cabai rawit dijual dengan harga Rp90.000 per kilogram.

Dengan adanya perbedaan harga tersebut, pemerintah berharap masyarakat memperoleh alternatif untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan biaya yang lebih terjangkau.

“Kalau di pasaran harganya berada pada kisaran Rp110.000 sampai Rp140.000 per kilogram, pemerintah hadir memberikan alternatif dengan harga yang lebih murah, yakni Rp90.000 per kilogram. Kami berharap langkah ini dapat memberikan kelegaan bagi masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Novly menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara berencana melanjutkan intervensi pasar secara berkesinambungan hingga Desember 2026, dengan mempertimbangkan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dan dampaknya terhadap perkembangan harga pangan.

Menurutnya, apabila langkah tersebut terbukti memberikan dampak positif terhadap normalisasi harga, pemerintah akan terus melaksanakannya sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah.

“Rencana kita, langkah yang dilakukan oleh Bupati dan Wakil Bupati ini akan terus diupayakan sampai bulan Desember. Kita akan melihat perkembangan dan melakukan evaluasi. Apabila intervensi ini memberikan dampak terhadap normalisasi harga, tentu akan kita lanjutkan,” ungkap Novly.

Ia juga menjelaskan bahwa keterbatasan stok cabai menjadi tantangan yang dihadapi, bukan hanya di Kabupaten Minahasa Utara, melainkan juga di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor iklim dan cuaca panas ekstrem yang berdampak terhadap sektor pertanian, termasuk produksi cabai di daerah.

Meski demikian, pemerintah daerah berkomitmen untuk tetap mengupayakan ketersediaan komoditas tersebut. Berapa pun jumlah cabai yang dapat diperoleh dari petani, baik dari Minahasa Utara maupun wilayah lainnya, akan diupayakan untuk disalurkan kepada masyarakat melalui kegiatan intervensi pasar.

“Memang harus diakui, stok cabai mengalami keterbatasan akibat kondisi iklim dan cuaca panas ekstrem. Namun, berapa pun jumlah yang bisa kita dapatkan dari petani, dari wilayah mana saja, tetap akan kita upayakan untuk dijual kepada masyarakat,” katanya.

Selain melaksanakan Gerakan Pangan Murah di pasar tradisional, Pemkab Minahasa Utara juga merencanakan kerja sama dengan pasar modern dan supermarket untuk memperluas jangkauan intervensi harga.

Novly mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan langkah agar intervensi tidak hanya dilakukan melalui kegiatan penjualan langsung kepada masyarakat, tetapi juga melalui skema subsidi harga.

Skema tersebut direncanakan melibatkan pedagang dan PUD Klabat sehingga komoditas tertentu dapat dijual dengan harga di bawah harga pasar.

Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan mampu membangun kebersamaan antara pemerintah dan pelaku usaha dalam menjaga kestabilan harga serta memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh bahan pangan dengan harga yang wajar.

“Kita juga berencana bekerja sama dengan pasar modern dan supermarket pada minggu depan untuk melakukan intervensi harga dalam bentuk subsidi. Subsidi ini akan diarahkan kepada pedagang dan PUD Klabat agar kita bisa mendapatkan harga jual di bawah harga pasar,” jelasnya.

Ia menegaskan, upaya stabilisasi harga tersebut pada dasarnya bertujuan memberikan pilihan kepada masyarakat sekaligus mendorong para pedagang untuk bersama-sama mendukung keterjangkauan harga kebutuhan pokok.

Pemerintah berharap langkah tersebut dapat menciptakan kondisi pasar yang lebih kondusif dan memberikan rasa aman kepada masyarakat, terutama warga Minahasa Utara yang mengakses kebutuhan pangan di Pasar Airmadidi.

Novly menambahkan, strategi pengendalian harga yang dilakukan pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada intervensi pasar, tetapi juga menyasar penguatan produksi komoditas pangan melalui kegiatan budidaya.

Berdasarkan evaluasi terhadap kondisi pasar, khususnya kebutuhan masyarakat yang berbelanja di Pasar Airmadidi, pemerintah menilai bahwa intervensi harga perlu diimbangi dengan langkah-langkah untuk menjaga ketersediaan pasokan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyiapkan kebun percontohan atau demonstration plot (demplot) cabai.

Di lokasi tersebut, telah ditanam dua jenis cabai yang berumur lebih dari 10 bulan. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan lebih dari 100 kilogram bibit atau bahan tanam cabai dalam polybag untuk mendukung pengembangan produksi pada tahap berikutnya.

Novly menjelaskan, setelah tahapan tersebut, pemerintah berencana memindahkan kegiatan budidaya ke lokasi lain yang telah disiapkan sebagai kebun percontohan cabai.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi jangka menengah untuk memperkuat pasokan cabai sekaligus mengurangi tekanan kenaikan harga akibat terbatasnya produksi.

Tidak hanya melalui kebun percontohan, pemerintah juga mendorong para camat agar mengajak masyarakat melakukan penanaman cabai secara mandiri menggunakan polybag.

Menurut Novly, metode penanaman menggunakan polybag dinilai menjadi salah satu alternatif yang sesuai untuk menghadapi kondisi iklim saat ini, terutama cuaca panas yang menyebabkan berkurangnya ketersediaan air di lahan pertanian.

Dengan metode tersebut, masyarakat diharapkan dapat ikut berkontribusi dalam menjaga ketersediaan cabai, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sebagai bagian dari upaya memperkuat produksi pangan di daerah.

“Intervensi yang kita lakukan bukan hanya dari sisi harga, tetapi juga dari sisi budidaya. Kita menyiapkan kebun percontohan cabai dan mendorong camat-camat untuk menggerakkan masyarakat menanam cabai di polybag. Ini menjadi salah satu langkah yang dinilai ideal untuk menghadapi kondisi cuaca panas yang menyebabkan berkurangnya air di lahan pertanian,” ungkapnya.

Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara berharap berbagai langkah yang telah disiapkan, mulai dari Gerakan Pangan Murah, intervensi harga, rencana pemberian subsidi melalui kerja sama dengan pedagang dan pasar modern, hingga penguatan budidaya cabai, dapat berjalan secara terpadu.

Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga keterjangkauan harga, memperkuat ketersediaan pasokan, serta mengurangi dampak kenaikan harga pangan terhadap pengeluaran masyarakat.

Novly menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian harga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, petani, pedagang, pengelola pasar, hingga masyarakat.

Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap stabilisasi harga tidak hanya memberikan manfaat dalam jangka pendek, tetapi juga mendukung ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan.

Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di Pasar Airmadidi pun menjadi salah satu bentuk kehadiran pemerintah dalam menjawab kebutuhan masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika harga komoditas pangan.

Pemkab Minahasa Utara berkomitmen untuk terus mengevaluasi efektivitas setiap kebijakan yang dilaksanakan, sehingga intervensi yang dilakukan benar-benar memberikan dampak terhadap stabilitas harga dan membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pangan dengan harga yang lebih terjangkau.

 

(Vera.E.Kastubi).

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular