Sabtu, April 25, 2026
spot_img
BerandaMinahasa UtaraDiplomasi Hijau di Desa Budo, Dubes Aspasaf Santo Darmosumarto Puji Model Ekowisata...

Diplomasi Hijau di Desa Budo, Dubes Aspasaf Santo Darmosumarto Puji Model Ekowisata Mangrove Minut

MINUT, TelusurInformasiNews.id –Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara menunjukkan komitmennya dalam pengelolaan lingkungan dan pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui kunjungan diplomatik yang berlangsung di Desa Budo. Jumat (24/4/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, yakni Duta Besar Santo Darmosumarto selaku Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf), serta Staf Ahli Menteri, Hendra Yusran Siri. Kunjungan tersebut difokuskan pada pengelolaan kawasan wisata mangrove dan kegiatan penanaman mangrove yang menjadi ikon Desa Budo.

Dalam kesempatan itu, Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa Utara, Ir. Novly Wowiling, yang turut mendampingi rombongan diplomatik. Sambutan dari Pemerintah Kabupaten disampaikan oleh Kepala Bagian Pemerintahan Kabupaten Minahasa Utara, Sefferson Sumampow.

Dalam sambutannya, Sefferson Sumampow menyampaikan, “Saya mengucapkan selamat datang di Budo Ekowisata Mangrove Village. Salam dari Bapak Bupati yang tidak dapat hadir bersama kita hari ini karena tugas dinas di Jakarta. Beliau menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak, baik pemerintah maupun pelaku usaha, yang telah berkontribusi dalam pengembangan kawasan ini,” ujar Sefferson.

Sefferson menjelaskan bahwa sejak tahun 2021, Desa Budo telah dikembangkan sebagai model ekowisata mangrove yang mengintegrasikan upaya konservasi lingkungan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Pada tahun 2022, inisiatif tersebut berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sebagai salah satu model pengembangan ekonomi kreatif berbasis lingkungan.

“Hingga saat ini, program ini telah menarik lebih dari 170.000 kunjungan wisatawan. Kami meyakini Desa Budo merupakan model pengembangan yang dapat direplikasi dan memberikan kontribusi nyata bagi penguatan ekonomi masyarakat. Kami berharap kunjungan hari ini dapat menginspirasi pengembangan di masa mendatang,” tambah Sefferson.

“Selamat datang di Desa Budo dan selamat menikmati keindahan Minahasa utara Terima kasih,” tutup Sefferson.

Sementara itu, Dirjen Aspasaf Santo Darmosumarto menegaskan pentingnya menghadirkan bukti nyata komitmen Indonesia kepada dunia internasional, khususnya dalam pengelolaan lingkungan dan kerja sama global. “Kami mengundang perwakilan negara-negara sahabat, khususnya para duta besar, untuk melihat langsung implementasi konkret dari komitmen Indonesia. Hal ini tidak hanya berdampak secara nasional, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal. Kunjungan ke Desa Budo dan Bitung menunjukkan bahwa kerja sama internasional mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat,” kata Darmosumarto

Ia juga menambahkan bahwa Sulawesi Utara memiliki posisi strategis dalam kerja sama internasional, salah satunya melalui keberadaan Sekretariat Coral Triangle Initiative (CTI) di Manado. “Keberadaan Sekretariat CTI menjadi pusat pengembangan kerja sama pemanfaatan terumbu karang, baik untuk pariwisata maupun pelestarian ekosistem. Kami juga mendorong Manado dan  Minahasa Utara semakin dikenal sebagai destinasi wisata dan tujuan investasi internasional,” tutur Darmosumarto

Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa Utara, Novly Wowiling, turut menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut yang dinilai membawa dampak positif bagi daerah, khususnya Desa Budo sebagai lokus pengembangan wisata mangrove. “Atas nama pemerintah daerah, kami sangat mengapresiasi kunjungan dari Kementerian Luar Negeri bersama mitra internasional. Desa Budo menjadi contoh nyata bagaimana pengelolaan mangrove berbasis masyarakat dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang memberikan dampak ekonomi langsung,” ucap Wowiling.

Sekda juga mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir, pengelolaan wisata mangrove di Desa Budo telah menghasilkan potensi pendapatan desa yang signifikan. “Dari sektor ini, potensi pendapatan mencapai kurang lebih Rp2,8 miliar, bahkan melampaui alokasi dana APBDes yang berkisar Rp1,5 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata berbasis lingkungan mampu memberikan manfaat ekonomi yang besar sekaligus menjaga kelestarian alam,” jelas Sekda Wowiling.

Lebih lanjut, Wowiling menambahkan bahwa Minahasa Utara memiliki potensi mangrove yang sangat luas, mencapai sekitar 3.000 hektare, serta daya tarik wisata yang diminati wisatawan domestik maupun mancanegara. “Komitmen kami jelas, yaitu menjaga dan mengembangkan potensi maritim, termasuk mangrove dan terumbu karang. Ini menjadi kekuatan Minahasa Utara dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di Sulawesi Utara,” tandas Sekda Wowiling.

Kunjungan diplomatik ini diharapkan dapat memperkuat citra Desa Budo sebagai destinasi ekowisata berbasis konservasi yang ramah lingkungan serta memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan global. Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara berkomitmen untuk terus mengembangkan model serupa di daerah lain guna mewujudkan pariwisata berkelanjutan yang berdaya saing internasional.

Hadir mendampingi Sekretaris Daerah, Novly Wowiling; Kadis. Perikanan minut, Jack Paruntu,  Kadis Pariwisata, Jein Barantian ,Kabag Pemerintahan, Sefferson Sumampow, Camat Wori, Oktavianus Mayuntu, Hukum Tua Desa Budo.

 

(Vera E. Kastubi)

 

 

 

 

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular