MINUT, TelusurInformasiNews.id – Pemerintah Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, terus memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TBC) melalui pencanangan Gerakan Bersama Penguatan Desa Siaga TBC. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, mendorong penemuan kasus sejak dini, serta memperkuat pendampingan bagi pasien agar menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas. Bertempat di Aula Kantor Camat Kalawat. Jumat, (23/10/2026).
Pencanangan tersebut melibatkan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, jajaran kesehatan, kader kesehatan, Tim Penggerak PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur terkait. Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Utara, Allan Mingkid, bersama Camat Kalawat, Agustinus Widruma Dondokambey, S.STP., M.A.P.
Rangkaian kegiatan ditandai dengan pembacaan deklarasi Desa Siaga TBC sebagai wujud komitmen bersama untuk meningkatkan peran pemerintah dan masyarakat dalam mencegah penyebaran penyakit tuberkulosis di wilayah Kecamatan Kalawat.
Dalam laporan kegiatan, Camat Kalawat Agustinus Widruma Dondokambey menjelaskan bahwa pencanangan tersebut dilaksanakan dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, serta berdasarkan hasil koordinasi antara Pemerintah Kecamatan Kalawat, pemerintah desa, Puskesmas Kolongan, dan unsur terkait lainnya.
Menurut Agustinus, penguatan Desa Siaga TBC merupakan bentuk komitmen bersama untuk membangun sistem pencegahan dan penanggulangan yang terintegrasi, mulai dari tingkat kecamatan, pemerintah desa, hingga lingkungan masyarakat.
“Gerakan bersama Desa Siaga TBC ini menjadi langkah untuk memperkuat komitmen pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dalam mencegah serta menanggulangi tuberkulosis. Penanganannya membutuhkan keterlibatan bersama, bukan hanya tenaga kesehatan, tetapi juga pemerintah desa, kader, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga,” ujar Agustinus.
Ia menambahkan, gerakan tersebut memiliki sejumlah sasaran penting, di antaranya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai penyakit TBC, cara penularannya, langkah pencegahan, serta pentingnya menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Selain itu, pemerintah desa dan masyarakat diharapkan semakin aktif mendukung program penanggulangan TBC, termasuk membantu menemukan warga yang mengalami gejala atau diduga terinfeksi agar segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Upaya tersebut juga diarahkan untuk memastikan pasien TBC memperoleh dukungan selama menjalani pengobatan, sehingga dapat menyelesaikan seluruh tahapan pengobatan sesuai ketentuan medis.
“Peran pemerintah desa, kader kesehatan, dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan program ini. Kita perlu membangun kepedulian bersama agar warga yang mengalami gejala TBC tidak takut memeriksakan diri, sementara pasien yang sedang menjalani pengobatan mendapatkan pendampingan dan dukungan hingga pengobatannya selesai,” tutur Agustinus.
Menurutnya, Pendampingan terhadap pasien sekaligus menjadi bagian penting dalam mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap penderita TBC. Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, pasien diharapkan tidak merasa dikucilkan dan dapat menjalani pengobatan dengan dukungan keluarga serta lingkungan sekitarnya.
Agustinus juga menegaskan pentingnya koordinasi berkelanjutan antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, puskesmas, kader kesehatan, Tim Penggerak PKK, dan seluruh pemangku kepentingan agar pelaksanaan Desa Siaga TBC tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui program nyata di setiap desa.
Dalam laporannya, ia menyampaikan bahwa sebelum pencanangan bersama tingkat kecamatan dilaksanakan, tiga desa telah lebih dahulu mencanangkan Desa Siaga TBC, yakni Desa Kolongan Tetempangan, Desa Watutumou Dua, dan Desa Kalawat.
Selanjutnya, gerakan tersebut diperluas melalui pencanangan secara serentak di sembilan desa yang berada di wilayah Kecamatan Kalawat. Perluasan ini diharapkan dapat memperkuat pemerataan edukasi, kewaspadaan masyarakat, serta dukungan terhadap upaya penanggulangan TBC di seluruh wilayah kecamatan.
Kegiatan ini diikuti jajaran Pemerintah Kecamatan Kalawat, pemerintah desa se-Kecamatan Kalawat, unsur puskesmas, perangkat desa, kader kesehatan, Tim Penggerak PKK, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Pada akhir laporannya, Camat Agustinus menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh peserta dan berharap kegiatan tersebut dapat diikuti dengan baik. Ia juga meminta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Utara untuk memberikan arahan sekaligus membuka secara resmi pencanangan Gerakan Bersama Penguatan Desa Siaga TBC.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Utara, Allan Mingkid, menekankan pentingnya keterlibatan aktif seluruh unsur masyarakat dalam memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan TBC. Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit ini tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan, tetapi juga pada kesadaran warga, dukungan pemerintah desa, serta kepedulian lingkungan terhadap orang yang sedang menjalani pengobatan.
“Penguatan Desa Siaga TBC harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan seluruh masyarakat. Warga perlu memahami pentingnya mengenali gejala lebih dini, memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, serta mendukung pasien agar menjalani pengobatan secara teratur sampai tuntas. Kita juga harus menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap penderita TBC,” kata Mingkid.
Ia menegaskan, masyarakat perlu diberikan pemahaman yang benar bahwa TBC merupakan penyakit yang dapat ditangani melalui pemeriksaan dan pengobatan yang tepat. Karena itu, warga yang mengalami gejala yang mengarah pada TBC perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan agar dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan sesuai kebutuhan medis.
“Jangan menunggu sampai kondisi semakin parah untuk mencari pertolongan. Apabila ada anggota keluarga atau warga yang mengalami gejala yang mengarah pada TBC, segera arahkan untuk memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan. Penemuan kasus lebih dini akan membantu pasien mendapatkan penanganan yang tepat sekaligus mendukung upaya memutus rantai penularan,” tegas Mingkid.
Mingkid juga menekankan bahwa pasien yang sedang menjalani pengobatan membutuhkan dukungan dari keluarga, kader kesehatan, dan lingkungan sekitarnya. Pendampingan diperlukan agar pasien mengikuti petunjuk tenaga kesehatan, mengonsumsi obat sesuai jadwal, serta menyelesaikan pengobatan yang telah ditetapkan.
“Pemerintah desa bersama kader kesehatan dapat mengambil peran penting melalui edukasi, penyebaran informasi yang benar, dan pendampingan kepada warga. Jangan sampai ada masyarakat yang takut berobat karena merasa malu atau khawatir mendapatkan perlakuan berbeda. Kita harus membangun lingkungan yang peduli, memberikan dukungan, dan tidak melakukan diskriminasi terhadap pasien TBC,” terang Mingkid.
Ia berharap, pencanangan Desa Siaga TBC di Kecamatan Kalawat dapat menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama lintas sektor, meningkatkan keterlibatan masyarakat, serta memastikan upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit tersebut berjalan secara berkesinambungan.
Melalui pencanangan Gerakan Bersama Penguatan Desa Siaga TBC, Pemerintah Kecamatan Kalawat bersama pemerintah desa dan jajaran kesehatan diharapkan semakin memperkuat koordinasi dalam pelaksanaan edukasi, deteksi dini, rujukan pemeriksaan, serta pendampingan pasien.
Keberadaan kader kesehatan dan dukungan masyarakat juga diharapkan dapat membantu meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala TBC, mendorong warga mengakses pelayanan kesehatan, serta menciptakan lingkungan yang mendukung proses pemulihan pasien.
Gerakan ini diharapkan tidak berhenti pada pencanangan dan pembacaan deklarasi, tetapi terus berlanjut melalui kegiatan nyata di sembilan desa, dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat secara aktif.
Dengan komitmen dan kerja sama yang berkelanjutan, Kecamatan Kalawat diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan TBC, sekaligus mewujudkan masyarakat yang lebih sadar kesehatan, peduli terhadap sesama, dan bebas dari stigma maupun diskriminasi terhadap penderita tuberkulosis.
(Vera.E.Kastubi).






