Rabu, April 22, 2026
spot_img
BerandaReviews9 Mei, Victory Day; "Dari Lapangan Merah Moscow Yang Tak Merah Lagi"

9 Mei, Victory Day; “Dari Lapangan Merah Moscow Yang Tak Merah Lagi”

SULUT, TelusurInformasiNews.id – Fasisme akhirnya takluk. 9 Mei 1945, tragedi umat manusia yang menelan puluhan juta bahkan ratusan juta nyawa umat manusia, dengan kampanye genosida orang Yahudi, sampai puluhan juta tentara terlibat peperangan hingga tewas.

Kisah tragis ini tidak mungkin hilang begitu saja. Sekalipun jalan sejarah agak ganjil, kekuatan yang bersekutu dalam perang melawan fasisme berusaha menafsir secara berbeda tentang peristiwa itu saat ini.

Kisah perang dunia ke 2 bukanlah seperti cerita-cerita film Hollywood. Pembantaian orang-orang Yahudi Eropa diawal kampanye penaklukan Hitler atas Eropa bukanlah satu-satunya alasan dimana kegilaan atas keyakinan rasis dalam melihat persoalan dan cara penyelesaiannya mengakibatkan tragedi sejarah bagi umat manusia dan kemanusiaan.

Perang dunia ke 2 bukan film action tentang pembebasan kaum yahudi, ini lebih dari tragedi yang dihadapi oleh kaum yahudi di Eropa; yaitu mobilisasi puluhan juta manusia menjadi prajurit yang kemudian tewas dimedan pertempuran. Dan yang paling menyakitkan adalah apa yang dirasakan Uni Soviet pada waktu itu ketika pasukan Jerman menyerang “Stalingraad” dan “Leningraad” pada tahun 1943.

Dari pertempuran yang paling getir di Stalingraad, tentara merah Uni Soviet memukul balik tentara Jerman sampai menduduki Berlin pada 9 Mei 1945.

Kisah ini selalu ada di ingatan bangsa Rusia, sekalipun mereka sudah menanggalkan Uni Soviet pada 1991. Parade militer dilakukan setiap tanggal 9 Mei untuk menghormati para martir yang dimana hampir 8 juta tentara merah gugur dalam palagan perang dunia ke 2.

Kisah terhadap fasisme ini bukan soal kebencian terhadap kaum yahudi saja. Fasisme juga bukan hanya sekedar cara pandang rasis. Fasisme berkembang secara aneh dalam sejarah moderen saat ini dan memodifikasi dirinya dalam beberapa gagasan politik, termasuk saat perang dingin.

Selesai menyerahnya poros fasisme Jerman – Jepang – Italia, para sekutu terpecah dalam pertarungan ideologi, barat yang kapitalis versus Uni Soviet yang komunis. Terpecahnya kekuatan pemenang perang dunia ke 2 melahirkan poros barat yang dipimpin USA dan blok timur yang dipimpin Uni Soviet. Periode ini disebut periode perang dingin.

Era perang dingin inilah banyak bangsa merdeka muncul. Pasca perang dunia ke 2 tahun 1945, wilayah-wilayah koloni bangsa Eropa di Asia, Afrika dan Latin Amerika bangkit menuntut kemerdekaan. Indonesia bahkan menyatakan kemerdekaan hanya beberapa bulan setelah penaklukan Berlin, yaitu pada 17 Agustus 1945, ketika Jepang angkat kaki setelah 2 kotanya yaitu Hiroshima dan Nagasaki di Bom Nuklir oleh USA pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945.

Kelelahan negara Eropa dalam perang dunia ke 2 memberi kesempatan negara-negara kolonial membebaskan diri dalam penjajahan 3 abad bangsa Eropa. Upaya negara-negara Eropa untuk menguasai negeri-negeri koloninya menghadapi ketidaksetujuan Uni Soviet, inilah yang kemudian memicu perang dingin: Dukungan Uni Soviet terhadap negara-negara koloni Eropa yang ingin merdeka versus keinginan Eropa menguasai kembali negeri-negeri jajahannya.

Benua Eropa tidak lagi jadi Medan pertempuran. Perang dingin memindahkan medan pertempuran kewilayah-wilayah jajahan bangsa Eropa diseluruh belahan bumi. Sialnya, kolonialis Eropa yang didukung USA tidak segan-segan mengunakan cara-cara fasisme untuk merebut kembali wilayah jajahannya. Tidak sedikit negara-negara dunia ke 3 yang baru merdeka dipecah dalam perang saudara dan kudeta militer yang brutal atas dukungan mereka. Termasuk Soeharto di Indonesia pada tahun 1966 adalah salah satunya yang bekerja untuk kepentingan tersebut.

Soeharto tidak segan-segan mengunakan cara-cara fasisme melakukan pembersihan yang dituduh PKI termasuk loyalis-loyalis Soekarno yang anti Neo kolonialisme. Diperkirakan korbannya hampir sama dengan yahudi yang dibantai Jerman diseluruh Eropa. Dan bukan hanya di Indonesia, kudeta-kudeta militer dukungan barat terjadi di benua Afrika, Asia dan Amerika Latin. Korban perang dingin akibat politik pecah belah diberbagai belahan bumi negara-negara bekas kolonial sama tragisnya dengan perang dunia ke 2 dalam hal korban jiwa, melihat perang dingin berlangsung kurang lebih 50 tahun, sampai kemudian runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991.

Pasca runtuhnya Uni Soviet, Rusia jatuh dalam demokrasi liberal. Negara-negara yang pernah bergabung pun memilih lepas dari Rusia. Tapi semenjak Putin naik kepuncak kekuasaan Rusia, pelan-pelan Rusia bangkit.

China yang sebelum Uni Soviet runtuh justru meninggalkan pola lama gaya Uni Soviet. Keterlibatan China dalam perang dingin membantu Indo China (Vietnam, Kamboja dan Laos) dan Korea Utara mungkin membuat sumberdaya mereka terkuras untuk kepentingan eksternal ketimbang dalam negerinya. Deng Xiaoping sadar bahwa tidak mungkin menghadapi barat dengan cara politik militer. Deng Xiaoping menyerukan keterbukaan ekonomi pada tahun 1980-an sebagai tanda meninggalkan cara-cara Uni Soviet. Ironisnya, 10 tahun kemudian Uni Soviet runtuh dan China bisa bertahan sampai saat ini.

Putin mulai membenahi Rusia dari keterpurukan Ekonomi pasca Uni Soviet. Sementara China menunjukan progres perkembangan pembangunannya dengan keterbukaan ekonomi yang bisa diterima oleh Barat. Kemudian Perang ideologi bergeser ke perang ekonomi.

Rusia dibawah Putin berhasil menjadikan kekayaan alamnya, terutama Gas, sebagai keunggulan kooperatif. Eropa sangat ketergantungan terhadap gas Rusia. Dengan bentang alamnya yang luas, Rusia juga jadi pemasok biji-bijian pangan yang cukup besar. Sementara China dengan cepat membangun industri nasionalnya yang berkarakter sosialis. Dengan penduduk lebih dari 1 milyar manusia, China bukan hanya punya kelebihan tenaga kerja tapi menjelma jadi pasar bagi produk dunia.

20 tahun pasca perang dingin Barat dikejutkan dengan kebangkitan industri nasional China. China yang dianggap industri kelas 2 mulai merambah negara-negara dunia 3 dan membantu negara-negara dunia 3 membangun infrastruktur industri nasional negara-negara tersebut.

Memanfaatkan kelemahan barat yang hanya mengambil keuntungan mengeksploitasi kekayaan alam negara-negara dunia ke 3 yang berakibat kesenjangan ekonomi dan tidak terealisasinya jalan industrialisasi yang digagas oleh barat, China menawarkan kesempatan negara-negara dunia ke 3 membangun industri nasionalnya sesuai karakter negara masing-masing tanpa ikut campur urusan internal mereka.

Seperti juga era Uni Soviet dimana Lenin membuktikan bahwa kelas tertindas bisa bangkit merebut kuasa negara, China moderen juga memberikan contoh bahwa negara bekas jajahan yang miskin bisa bangkit jadi negara Industri mengejar ketertinggalan dari barat.

Pengaruh perkembangan ekonomi China dan ketergantungan Eropa terhadap pasokan Energi dari Rusia menjadikan Barat kehilangan pengaruhnya dalam pertarungan ekonomi global. Sementara China dan Rusia semakin mempererat hubungan dagangnya ketika Barat mulai ingin melepas mata rantai ketergantungan pada energi Rusia.

Pesan Eropa dibawah komando NATO terhadap Rusia berakibat Putin mengambil tindakan agresif di Ukraina. Pendekatan usang Eropa dan sekutunya melihat Rusia sebagai musuh ideologi yang mampu menyerang eropa kapanpun seperti era perang dingin ini tidak sejalan dengan fakta berkembangnya dunia multi polar. Ukraina, terutama Rakyatnya, menjadi korban konspirasi kepentingan elit Eropa yang kalap dimana industri energinya sangat tergantung gas dan minyak Rusia.

Disisi lain, China mulai merambah Afrika, Asia dan Amerika Latin membawa kerjasama ekonomi membangun infrastruktur industri.

Kemajuan China dan kesadaran baru negara-negara dunia ke 3 inilah yang kemudian membuat negara-negara dunia ke 3 mulai meninjau kembali praktek-praktek penguasaan ekonomi oleh barat dinegaranya masing-masing. Industri sosialis yang sesuai karakter negara-negara ke 3 mulai bertumbuh. Hal ini ditandai dengan berdirinya BRICS sebagai alternatif dunia multi polar dimana kebangkitan negara-negara bekas jajahan Eropa bisa berdiri diatas kakinya sendiri tanpa harus membaca-baca mantera kesejahteraan yang disampaikan oleh Barat.

Sekalipun saat ini mulai memasuki fase perang dagang, tapi bukan berarti politik perang tidak terjadi. Perang Rusia-Ukraina tidak lepas dari upaya Eropa untuk menekan Rusia yang menguasai pasar energi Eropa terutama dari gas alam. Satu-satunya memancing Rusia keluar dari kandangnya adalah mengorek luka batin sejarah, yaitu menjadikan Zelensky sebagai pemeran Hitler baru, mempraktekan fasisme sekali lagi, yang sebelumnya berhasil membendung pengaruh Uni Soviet saat perang dingin.

Munculnya fasisme Ukraina, upaya membendung pengaruh China dinegara dunia ke 3, memastikan perang dagang membuat dunia menjadi 2 kutub saling tarik menarik. Walaupun komposisi negara yang terlibat tidak jauh berbeda dengan perang dingin, pola lama membangkitkan cara-cara fasis memecah belah kepentingan negara-negara dunia ke 3 yang berpihak pada China – Rusia sudah terjadi.

Ukraina membangun narasi-narasi fasisme Jerman. Beberapa negara Afrika muncul kudeta para jenderal pro kepentingan barat berkali-kali yang disponsori kepentingan penguasaan ekonomi oleh Eropa. Sampai suatu ketika pada tahun 2022 muncul seorang kapten di Burkina Faso merebut kekuasaan negara dari tangan jenderal-jenderal pro barat. Upaya memperluas praktek fasisme ala perang dingin bisa dihentikan oleh perwira muda berpangkat kapten yang kemudian mengusir pangkalan militer Prancis dari negaranya dan menasionalisasi tambang emas untuk membiayai program-program kesejahteraan sosial seperti pendidikan gratis dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, memperbaiki layanan kesehatan dan terutama membiayai produksi pertanian untuk kebutuhan pangan dengan memobilisasi tenaga kerja kaum muda.

Kapten tersebut bernama Ibrahim Traore’, usia 35 tahun. Saat parade kemenangan 80 tahun atas fasisme Jerman beliau diundang khusus oleh Putin untuk hadir. Dia akan melihat barisan tentara negara-negara dunia ke 3 yang sedang bangkit ekonominya dan beberapa negara yang pernah menjadi motivator para pendiri bangsanya pada saat arus revolusi kemerdekaan bergejolak serta bantuan yang tulus dari sesama revolusioner untuk perjuangan bangsa-bangsa Afrika juga hadir.

Frans Eka Dharma K.

– Aktivis Mahasiswa 1998 Sulawesi Utara
– Inisiator YSK 98
– Mantan Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sulawesi Utara
– Koordinator Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) Sulawesi Utara

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular