SULUT, TelusurInformasiNews.id.- Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama di Indonesia, adalah simbol perjuangan yang tak lekang oleh zaman. Perjalanan hidupnya adalah narasi lengkap tentang ketangguhan, visi, dan dedikasi yang melampaui eranya. Diskusi “3 Wajah Roehana Koeddoes” mengurai jejak multifaset pahlawan nasional ini, menegaskan bahwa warisannya adalah fondasi bagi pergerakan perempuan Indonesia modern. Selasa, (10/2/2026).
Lahir pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Sumatra Barat, Roehana tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelajar. Ayahnya, Moehammad Rasjad Maharadja Sutan, adalah seorang Kepala Jaksa di masa Hindia Belanda. Ia adalah saudari tiri dari Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia, dan sepupu dari tokoh diplomat Agus Salim. Bahkan, ia dikenal sebagai sahabat korespondensi R.A. Kartini, di mana mereka saling bertukar pikiran tentang emansipasi dan pendidikan perempuan.
Pada 7 November 2019, Presiden Joko Widodo menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 120/TK/Tahun 2019, sebuah pengakuan resmi yang telah lama dinantikan bagi pejuang sunyi ini.
Di masa kolonial, ketika ruang gerak perempuan sangat dibatasi pada ranah domestik, Roehana justru menembus sekat-sekat itu dengan gagah berani. Ia tidak hanya memerdekakan dirinya sendiri, tetapi juga berusaha memerdekakan pikiran ribuan perempuan lain melalui tiga peran kunci yang saling berkaitan: sebagai pelopor jurnalisme, pendidik, dan penggerak ekonomi.
Wajah Pertama, Pelopor Jurnalisme Perempuan yang Memberi Suara: Roehana Koeddoes adalah pionir yang menggunakan pena sebagai senjata perjuangan. Karier jurnalistiknya dimulai pada 1908 sebagai penulis untuk surat kabar perempuan _Poetri Hindia_. Tulisan-tulisannya tidak hanya informatif, tetapi juga tajam, membakar semangat juang, dan mengkritisi ketidakadilan yang membelenggu kaumnya. Puncak kontribusinya di dunia pers terjadi pada 1912, ketika ia mendirikan dan memimpin surat kabar Soenting Melajoe (yang berarti “Perhiasan Melayu”). Dengan moto “Dari, oleh, dan untuk perempuan”, _Soenting Melajoe_ menjadi corong sekaligus ruang aman bagi perempuan untuk menyuarakan pemikiran, berdiskusi tentang isu sosial, politik, dan budaya, serta membangun jaringan solidaritas.
Wajah Kedua, Pendidik dan Pejuang Literasi dari Ranah Minang: Jauh sebelum mendirikan surat kabar, Roehana telah meletakkan dasar perjuangannya melalui pendidikan. Pada 11 Februari 1911, ia mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sekolah ini bukan sekadar tempat belajar keterampilan rumah tangga. Roehana dengan visioner mengintegrasikan kurikulum yang mencakup baca-tulis huruf Latin dan Arab, berhitung, bahasa Belanda, dan pengetahuan umum. Ia percaya bahwa “pendidikan adalah kunci kemerdekaan berpikir”.
Wajah Ketiga, Penggerak Ekonomi dan Wirausahawan Visioner: Wajah ketiga Roehana yang sering kurang disorot, namun tak kalah penting, adalah perannya sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Melalui Sekolah Kerajinan Amai Setia, ia tidak hanya mencetak perempuan yang terdidik, tetapi juga terampil secara ekonomi. Para siswi diajarkan berbagai kerajinan tangan seperti menyulam, menjahit, dan anyaman dengan kualitas tinggi. Roehana kemudian mengelola pemasaran hasil kerajinan tersebut. Hasil karya para perempuan Koto Gadang bahkan berhasil diekspor hingga ke Eropa, membawa nama daerahnya ke kancah internasional dan memberikan pemasukan yang nyata.
Ketiga wajah jurnalis, pendidik, dan penggerak ekonomi—menyatu dalam diri Roehana Koeddoes menjadi sebuah filosofi perjuangan yang holistik: “Sunting Kata Menyulam Asa”. Ia menyunting kata-kata melalui jurnalisme untuk menyuarakan kebenaran, menyulam asa melalui pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan, dan menganyam kemandirian melalui ekonomi untuk mengukuhkan martabat.
“3 Wajah Roehana Koeddoes”, menegaskan bahwa semangat Roehana sangat relevan untuk menghadapi tantangan kekinian, mulai dari melindungi jurnalis perempuan di ruang digital, mendorong literasi media, hingga memberdayakan UMKM perempuan.
Warisan Roehana Koeddoes adalah pengingat bahwa perjuangan kesetaraan tidak hanya tentang menggugat, tetapi juga tentang membangun, mencipta, dan berkontribusi nyata. Sebagai pahlawan nasional, ia telah membuka jalan. Kini, tugas kita adalah meneruskan estafet perjuangannya dengan cara kita masing-masing, menjadikan semangat “3 Wajah Roehana” sebagai panduan untuk berkarya dan membangun negeri.
(Vera.E.Kastubi)






