SULUT, TelusurInformasiNews.id – Momentum May Day tahun ini di Sulawesi Utara menunjukkan wajah baru gerakan buruh tetap tegas dalam perjuangan, namun semakin cerdas dalam menentukan langkah. Perjuangan buruh tidak pernah lahir dari kenyamanan. Ia tumbuh dari tekanan, dari ketidakadilan, dan dari sistem yang memaksa buruh untuk terus bertahan. Dulu, ketika ruang dialog tertutup, jalanan menjadi medan utama perlawanan. Aksi, mogok kerja, dan tekanan massa adalah bahasa yang dipahami oleh kekuasaan. Namun hari ini, Sabtu (2 Mei 2026) situasi mulai berubah. Ruang-ruang dialog perlahan terbuka, forum tripartit berjalan, dan jalur advokasi mulai memberi ruang bagi buruh untuk terlibat langsung dalam proses kebijakan. Dalam kondisi ini, gerakan buruh dituntut untuk tidak hanya keras, tetapi juga cerdas; tidak hanya berani, tetapi juga terarah. Meski demikian, buruh juga tidak boleh naif. Ketika dialog hanya menghasilkan janji tanpa realisasi, maka jalanan tetap menjadi alat perjuangan yang sah. Karena bagi buruh, hasil adalah ukuran, bukan sekadar kata-kata.
Berangkat dari kesadaran itu, gerakan buruh di Sulawesi Utara memilih langkah yang lebih strategis dalam momentum 1 Mei. Di tengah kondisi di mana seluruh instansi pemerintah libur dan peringatan resmi May Day daerah yang semula direncanakan di TKB dijadwalkan ulang ke tanggal 4 Mei, aksi jalanan dinilai tidak efektif. Aksi tanpa arah hanya akan menjadi rutinitas ramai, tetapi hampa.
Sebagai gantinya, serikat buruh yang tergabung dalam KSBSI dan KSPI menggelar kegiatan bakti sosial pembersihan sampah plastik di pesisir Pantai Malalayang II pada 2 Mei. Kegiatan ini bukan bentuk mundur dari perjuangan, melainkan pergeseran strategi bahwa buruh tidak hanya menuntut, tetapi juga hadir memberi solusi nyata bagi masyarakat.
Kegiatan ini juga menunjukkan kuatnya sinergi antara buruh dan aparat. Kolaborasi bersama Polresta Manado berlangsung dalam suasana kebersamaan. Sebelum aksi bersih pantai dimulai, buruh menerima hadiah kejutan dari Kapolresta Manado Kombes Pol . Irham Halid S.I.K yang disampaikan melalui Kasat Intel AKP Andri Permadi S.I.K berupa Tumpeng. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng bersama Kapolsek Malalayang AKP Jusman Mori S.I.K,.M.M sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap perjuangan buruh.
Tidak hanya itu, ruang penyampaian aspirasi tetap diberikan. Perwakilan buruh dari FSB Niukeba KSBSI oleh Frangky Mantiri serta dari FSPMI KSPI oleh Sanni Lungan menyampaikan orasi yang menegaskan arah perjuangan buruh ke depan tegas, terukur, dan berorientasi pada hasil.
Setelah penyampaian aspirasi, seluruh peserta langsung bergerak membersihkan pesisir Pantai Malalayang II, dilanjutkan dengan makan bersama dan sesi foto sebagai simbol solidaritas. Kehadiran ratusan buruh dari berbagai unsur di Sulawesi Utara menjadi bukti bahwa gerakan buruh tetap solid, meskipun memilih cara perjuangan yang lebih konstruktif.
Di tengah dinamika tersebut, juga muncul kritik internal terhadap pihak-pihak yang mengaku mewakili buruh namun tidak memahami sejarah dan esensi perjuangan. Gerakan buruh diingatkan agar tidak terjebak pada sekadar simbolisme atau kepentingan sesaat tanpa arah ideologis yang jelas.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa gerakan buruh hari ini tidak kehilangan militansi, tetapi justru meningkatkan kualitas perjuangannya. Buruh tidak hanya hadir sebagai kekuatan penekan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang membangun. Sebuah pesan kuat bahwa perjuangan tidak selalu harus dilakukan di jalanan, tetapi juga bisa diwujudkan melalui aksi nyata yang memberi dampak langsung bagi masyarakat.
Inilah wajah gerakan buruh yang relevan dengan zaman cerdas membaca situasi, matang dalam bersikap, dan tetap teguh memperjuangkan keadilan. Bersatu, bergerak, dan memberi arti.
Tim TIN/003






