Sabtu, Oktober 24, 2026
spot_img
BerandaMinahasa UtaraFGD Industri Kelapa Nasional Digelar di Minut, Sekda Novly Wowiling Dorong Hilirisasi...

FGD Industri Kelapa Nasional Digelar di Minut, Sekda Novly Wowiling Dorong Hilirisasi dan Kesejahteraan Petani

MINUT, TelusurInformasiNews.id – Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) menjadi lokasi pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Kajian Pengembangan Industri Kelapa Nasional”, yang digelar di Hotel Sentra Minahasa Utara. Selasa (6/10/2026).

Kegiatan tersebut dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Minahasa Utara, Ir. Novly G. Wowiling, didampingi Kepala Dinas Pertanian Minut Bertha Loutje Katuuk, SP., MAP, serta Kepala Dinas Perindustrian Minut Agnes Tumangkeng.

FGD ini menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain perwakilan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara Jimmy Ringkuangan, AP., M.Si., yakni Edwin Stevi Monding, SP, M.Si. Kepala Bidang

Pengelolaan Lahan dan Air di Dinas Perkebunan Daerah Provinsi Sulawesi, serta perwakilan Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Utara Drs. Steyfen Rico Lasut, yakni Kepala Bidang Perindustrian pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Layla Karamoy.

Kajian tersebut disampaikan oleh Tim Peneliti Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3), Lembaga Riset Internasional Pembangunan Sosial, Ekonomi dan Kawasan (LRI PSEK) IPB University Tahun 2026.

Tim Peneliti IPB University Bogor, Indonesia, diketuai Prof. Dr. Widyastutik, dengan anggota Dr. Heti Mulyati, Dr. Alfian Helmi, Dr. Suprehatin, Dr. Ranti Wiliasih, Dr. Dian V. Panjaitan, Dr. Hafith Furqoni, Dr. Nugroho Adi Sasongko, Sri Retno Wahyu Nugraheni, M.Si., Muhammad Fazri, M.Si., Mutiara Probokawuryan, MMgt(Econ), serta Wildan Nur Arrasyiid, SE., M.Si.

Dalam sambutannya, Sekda Novly Wowiling menyampaikan apresiasi kepada IPB University melalui pusat studi yang telah memilih komoditas kelapa sebagai salah satu fokus kajian, dengan Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Minahasa Utara, sebagai salah satu lokus kegiatan.

Menurut Novly, pembahasan mengenai kelapa tidak semata-mata berbicara tentang komoditas perkebunan, tetapi juga menyangkut kehidupan dan sumber pendapatan masyarakat pedesaan.

“Kalau berbicara kelapa, kita sedang berbicara tentang tumpuan ekonomi dan kehidupan masyarakat petani pedesaan. Mayoritas petani di Provinsi Sulawesi Utara, secara khusus di Minahasa Utara, sumber pendapatannya dari kelapa,” ujar Novly.

Ia menilai, komoditas kelapa memiliki potensi yang sangat besar, namun masih terdapat kesenjangan antara besarnya potensi areal dan hasil yang diterima petani.

Menurutnya, Sulawesi Utara memiliki areal kelapa yang besar dan termasuk dalam lima besar di dunia. Namun, kekuatan areal tersebut belum sepenuhnya mampu menciptakan kesejahteraan bagi petani.

“Kalau masuk lima besar dunia, relevan dengan apa yang saya katakan bahwa sumber mata pencaharian utama adalah dari kelapa. Tetapi yang menjadi persoalan, kekuatan areal yang diusahakan petani belum menciptakan kesejahteraan petani,” katanya.

Karena itu, Novly berharap kajian yang dilakukan IPB dapat menjawab persoalan mendasar mengenai tingkat kesejahteraan petani kelapa sekaligus menemukan penyebab dan solusi yang dapat diterapkan.

Ia juga menyoroti pola pengelolaan kelapa yang masih cenderung mengandalkan produk utama berupa buah kelapa atau kopra. Ketika harga pasar turun, kondisi tersebut secara langsung berdampak kepada pendapatan petani.

Padahal, menurutnya, kelapa memiliki banyak produk turunan yang dapat memberikan nilai tambah. “Turunan dari kelapa ini sangat banyak. Tetapi yang dicapai di keadaan petani paling tinggi baru dua sampai tiga produk. Air kelapa masih dibuang, batok kelapa paling tinggi dijual sebagai tempurung. Padahal masih banyak turunan kelapa yang bisa dikembangkan,” jelasnya.

Novly mengatakan, potensi tersebut bahkan telah menarik perhatian investor dari luar negeri. Ia mengungkapkan bahwa dirinya beberapa kali menerima tamu dari negara seperti China dan India yang menunjukkan ketertarikan terhadap pengembangan industri kelapa.

“Mereka melihat ada sesuatu yang nilainya tinggi tetapi belum dimaksimalkan. Mereka ingin mengoptimalkan dan mengembangkan produk turunan kelapa,” ungkapnya.

Di Minahasa Utara sendiri, lanjut Novly, telah tumbuh sejumlah pabrik yang berkaitan dengan pengolahan kelapa. Produk yang telah dikembangkan antara lain santan beku dan tepung kelapa, sementara terdapat kurang lebih lima pabrik yang berkaitan dengan pengolahan kelapa.

Menurutnya, keberadaan industri tersebut dapat menjadi sumber pembanding sekaligus modal awal untuk memperkuat pengembangan industri kelapa di daerah.

“Kalau satu produk berhasil ditingkatkan pengolahannya dan menghasilkan berbagai turunan kelapa, kalau dihitung secara ekonomis, luar biasa nilainya,” tuturnya.

Ia menekankan, kajian yang dilakukan IPB harus mampu menghasilkan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa.

“Bagaimana upaya kajian ini menghasilkan langkah-langkah strategis agar supaya diberi bobot nilai tambah. Ini menjadi penting dan menjadi satu isu yang harus kita pikirkan keras tentang bagaimana upaya-upaya kebijakan dan program yang merupakan instrumen mendorong nilai tambah di tingkat masyarakat bisa terimplementasi dengan baik,” jelas Novly.

Selain hilirisasi, Novly juga mendorong agar pengembangan kelapa tidak dilakukan secara monokultur. Menurutnya, lahan di bawah pohon kelapa dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan komoditas lain, termasuk jagung dan peternakan.

Konsep integrasi tersebut dinilai dapat menciptakan keuntungan timbal balik, sekaligus mengurangi biaya produksi, khususnya kebutuhan pupuk.

“Kalau ada sapi, pupuk bisa berasal dari kotoran sapi. Begitu juga di bawah pohon kelapa bisa dikembangkan jagung. Jadi integrasinya saling menguntungkan,” jelasnya.

Novly juga mendorong agar kajian tersebut memasukkan inovasi pemanfaatan hasil samping kelapa, salah satunya pengembangan asap cair.

Menurutnya, asap cair memiliki potensi pemanfaatan yang luas, baik dalam perikanan maupun pertanian. Dalam perikanan, asap cair dapat digunakan dalam proses pengolahan ikan, termasuk cakalang, dengan kualitas yang dinilai dapat lebih baik dibandingkan metode pembakaran langsung.

Sementara di sektor pertanian, asap cair dapat dimanfaatkan sebagai pestisida alami sehingga penggunaan bahan kimia dapat dikurangi bahkan dimungkinkan untuk ditiadakan dalam penerapan tertentu.

“Kalau siklus optimalisasi terhadap kelapa ini dilakukan, potensinya luar biasa banyak. Tetapi kesadaran ini belum kuat di level petani. Sebagian masih berpikir bagaimana kelapa cepat menghasilkan uang,” ungkapnya.

Novly memahami bahwa sebagian masyarakat memang sangat bergantung pada kelapa. Bahkan, kelapa telah menjadi sumber pembiayaan kehidupan keluarga dan pendidikan anak-anak petani.

Namun, ia menilai perlu ada perubahan pola pikir agar komoditas kelapa tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Dalam kesempatan tersebut, Novly juga menyinggung tantangan lain yang kini dihadapi masyarakat, yakni musim kemarau yang berkepanjangan dan dampaknya terhadap sektor pertanian serta perkebunan.

Menurutnya, kondisi kemarau mulai memengaruhi tanaman kelapa dan sektor pertanian lainnya. Ia bahkan mengaku melihat langsung kondisi kekeringan ketika melakukan perjalanan tugas ke Gorontalo.

Novly mengingatkan bahwa persoalan kekeringan berpotensi berdampak pada ketersediaan pangan dan inflasi, karena sumber pangan sangat bergantung pada sektor pertanian.

“Ketika kena musim panas, selesai. Kita belum berpikir tentang teknologi menghadapi musim panas yang cukup panjang seperti itu,” terang Novly.

Ia kemudian menyinggung pentingnya pendekatan pertanian presisi atau precision agriculture, meskipun implementasinya di tingkat masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan.

Menurutnya, penerapan teknologi pertanian belum mudah dilakukan karena teknologi di tingkat petani masih dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari kenyataan.

Bahkan, konsep sederhana seperti pemanfaatan polybag pun masih menghadapi kendala budaya. Padahal, menurut perhitungannya, jika setiap rumah memiliki sekitar 10 hingga 15 polybag yang ditanami kebutuhan pangan tertentu, hal itu dapat membantu memenuhi kebutuhan harian masyarakat, termasuk komoditas cabai.

“Dengan 10 sampai 15 polybag setiap rumah, kebutuhan sehari-hari terutama untuk komoditas seperti rica atau cabai sudah bisa terbantu,” ungkap Novly.

Novly menyebut komunitas kelapa dan cabai sebagai dua komoditas yang penting untuk terus dibicarakan dalam konteks pembangunan pertanian di Sulawesi Utara.

Ia berharap FGD tersebut dapat menghasilkan solusi berbasis pendekatan ilmiah yang nantinya dapat diterapkan di lapangan.

Lebih dari itu, Novly menegaskan bahwa rekomendasi ilmiah dari IPB jangan berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi harus dapat diterjemahkan menjadi program dan implementasi nyata yang memberikan dampak terhadap kesejahteraan petani.

“Saya berharap apa yang menjadi rekomendasi ilmiah dari IPB ini bisa diimplementasikan, bukan hanya sebatas rekomendasi administratif tertulis. Rekomendasi itu harus sampai pada implementasi dan bahkan menghasilkan kesejahteraan bagi petani kelapa yang ada di Provinsi Sulawesi Utara, termasuk di Kabupaten Minahasa Utara,” tegasnya.

Novly juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir, mulai dari tim IPB, pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, instansi terkait perkebunan dan perindustrian, asosiasi petani kelapa, jajaran Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, hingga rekan-rekan media.

Ia berharap hasil diskusi tersebut dapat menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan pengembangan industri kelapa yang lebih terintegrasi, mulai dari budidaya, pengolahan, hilirisasi, inovasi produk turunan, hingga peningkatan kesejahteraan petani.

Setelah menyampaikan sambutannya, dan atas izin Bupati Minahasa Utara, Novly Wowiling secara resmi membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Kajian Pengembangan Industri Kelapa Nasional di Kabupaten Minahasa Utara.

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi pemerintah, akademisi, pelaku industri, petani, serta pemangku kepentingan lainnya untuk menjadikan kelapa bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi sebagai kekuatan ekonomi daerah melalui pengembangan industri dan hilirisasi yang berkelanjutan.

 

(Vera.E.Kastubi).

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular